Pertama, munculnya gejolak di Pasar uang. Kedua, di pasar modal pemodal asing menjadi sangat sensitif pada gejolak di AS dan pasar modal regional.
Ketiga, ekspektasi inflasi meningkat karena volatilitas nilai tukar meningkat dan peningkatan harga komoditas pangan.
"Adanya ketidaknyamanan pelaku meningkatkan ekspektasi inflasi," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (4/1/2008).
Keempat, APBN juga mengalami tekanan karena adanya defisit yang membengkak untuk menambal subsidi.
Kelima dari sisi perdagangan, ekspor non migas Indonesia akan terpengaruh, pasar tujuan ekspor yakni AS dan Eropa akan mengalami penurunan.
Keenam, dari perbankan, bank akan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit karena naiknya risiko usaha.
Ketujuh, sektor riil akan mengalami kenaikan biaya produksi, transpor dan bahan baku.
Karena adanya perlambatan ini, ekonomi RI tahun 2008 makin berisiko untuk tetap tumbuh pada 6,8 persen.
"Kita melihat risiko untuk di bawah 6,8 persen makin besar," ujarnya.
Namun meski pertumbuhan tertekan, inflasi diyakini pemerintah tetap tidak terpengaruh pada 6 persen.
"Kebijakan stabilisasi harga pangan dan penguatan nilai tukar akan mengurangi risiko inflasi," ujarnya.
Untuk nilai tukar dipatok pada Rp 9.100 per US$ sedangkan SBI pada 7,5 persen. "Meskipun terdapat ruang penurunan SBI karena the Fed sudah menurunkan suku bunga," ujarnya.
(ddn/qom)











































