Β
Sekretaris Perusahaan PTBA Eko Budhiwijayanto menjelaskan, kejadian tersebut memang mengganggu pasokan batubaranya.
Ia menjelaskan, kasus ini bermula ketika kapal tongkang menabrak jembatan Ampera sehingga pengamannya tidak berfungsi normal. Sejak Jumat minggu kemarin hingga hari ini kapal masih tertahan.
Β
Menurut Eko, kapal tongkangnya baru boleh lewat setelah pengamannya selesai diperbaiki, yang diperkirakan butuh waktu sebulan.
Β
Sebenarnya, lanjut Eko, ada rencana mengalihkan pasokan yang biasanya lewat Kertapati ke pelabuhan Tarahan. Namun ternyata kapasitas pelabuhan Tarahan sudah penuh.
Β
"Jadi simalakama memang. Makanya kita tunggu sampai pengamannya selesai. Sekitar sebulan. Jadi pasokannya mungkin tertunda," katanya disela-sela diskusi pertambangan di Graha Niaga, Jakarta, Selasa (5/2/2008).
Β
Selanjutnya jatah yang harusnya dipasok bulan ini sebisa mungkin direkap bulan depan. Untungnya, kata Eko, pasokan PLTU Suralaya tidak hanya dari Kertapati tapi juga dari pelabuhan Tarahan dan Kalimantan.
Β
Eko menambahkan, sebenarnya kasus ini bukan tanggungjawabnya karena kontrak mereka bersifat FOB (freight on board). Jadi tanggungjawab PTBA hanya sampai diatas kapal, selanjutnya tanggung jawab pengangkut.
Β
Jumlah batubara PTBA yang melewati Kertapati sebanyak 1,6 juta ton dimana sekitar 675.000 diantaranya untuk PLTU Suralaya.
Β
"Sisanya untuk kebutuhan domestik lain," katanya.
Β
Kebutuhan batubara PLTU Suralaya sendiri mencapai 5,1 juta ton setiap tahunnya.
Seperti diketahui, keputusan menutup Jembatan Ampera itu didasarkan hasil rapat Pemerintah Provinsi Sumsel dengan pihak terkait, Senin (4/2/2008).
Rapat dihadiri Sekretaris Daerah Musyrif Suwardi, Kepala Dinas Perhubungan Sumsel Akhmad Najib, kepala Dinas PU Bina Marga yang diwakili Kepala Satuan Teknis Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolis Aidil Fiqri, Kadis Perhubungan Palembang Syaidina Ali, Kepala Administrasi Pelabuhan Efendi Syarif, Ketua Indonesian Ships Owner Asosiation (Insa), dan PT Bukit Asam yang diwakili General Manajer Unit Dermaga Kertapati Rahmatullah.
Dalam rapat yang berjalan alot itu akhirnya disimpulkan untuk sementara Jembatan Ampera ditutup batu angkutan batubara hingga ditemukan solusi terbaik yang tidak merugikan semua pihak.
Peristiwa penabrakan tiang pelindung ini sudah empat kali terjadi sejak tiang dibangun satu tahun lalu. Sebelumnya, tiang pelindung juga sempat jadi sasaran tongkang pengangkut batubara. Sejak kasus terakhir tiang pelindung Ampera menjadi miring dan dkhawatirkan akan berdampak semakin buruk di kemudian hari.
Pada peristiwa 30 Januari lalu, tugboat penarik tongkang King Fisher bermuatan batu split ratusan ton dan pemandu kapal belakang, KM Teratai, melintas di bawah Jembatan Ampera. Diduga karena tidak hati-hati, kapal dari arah Pelabuhan Boom Baru itu tidak bisa dikendalikan dan menabrak tiang pelindung.
Kepala Satuan Teknis Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolis Aidil Fiqri mengaku tidak sudah tidak bisa bilang apa-apa lagi sebab kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Dia menegaskan, jika tidak ada tiang pelindung, nasib Jembatan Ampera yang usianya sudah setengah abad itu tidak tahu akan seperti apa.
Jembatan Ampera dibangun tahun 1964. Ampera memiliki panjang 666,2 meter, lebar 22 meter, tinggi 11,50 meter dan tinggi menara 65 meter. Jembatan ini dibangun atas biaya pampasan perang Jepang dan dirancang Ingenjeur Buro rhein/Ruhr GMBH tahun 1961, konsultan asal Jerman. Ampera diresmikan pada 10 November 1965 dengan nama Jembatan Bung Karno.
(lih/qom)











































