"Dari BBM Rp 10 triliun, listrik Rp 10 triliun dan peningkatan penerimaan pertambangan umum Rp 5 triliun jadi total Rp 25 triliun," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, usai rapat elpiji di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (5/2/2008).
Menurut Purnomo, dalam rapat dengan wapres Jusuf Kalla, dibicarakan upaya mengurangi volume BBM bersubsidi dan listrik yang bisa diawasi dengan target untuk premium, kerosit dan solar sebesar Rp 10 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita terapkan kartu kendali. Sekarang kita sedang hitung ulang karena ini harus disinkronkan dengan konversi minyak tanah ke gas," kata Tubagus.
Menurut Tubagus, untuk tahap pertama kartu kendali akan dibagikan di Jawa yang daerahnya belum ada konversi minyak tanah ke gas. Kartu kendali ini diberikan kepada rumah tangga untuk membeli minyak tanah dalam jumlah tertentu.
"Mereka tidak bisa beli lebih dari itu. Kita akan lakukan koordinasi dengan Pertamina untuk mengetahui daerah mana yang belum ada program konversi. Kartu kendali akan dilakukan secepatnya, mungkin April," katanya.
Sementara Dirut Pertamina Ari Soemarno mengakui jumlah penghematan premiun dan solar ditargetkan Rp 10 triliun.
"Ini masih dimatangkan. Kita lakukan dengan pembatasan premium yang masih terus dimatangkan kajiannya. Sementara untuk percepatan konversi minyak tanah, kendalanya ada pada tabung. Kita akan tambah 2,5 juta lagi sehingga jumlah totalnya 15 juta tabung," jelas Ari.
Selain dari pembatasan premium dan solar, Pertamina juga diminta untuk mengurangi perhitungan alfa 1 persen. "Ini berat bagi pertamina. Kita harus lakukan efisiensi semaksimal mungkin," ujar Ari.
Sementara Dirut PLN Eddie Widiono mengatakan upaya PLN melakukan penghematan listrik salah satunya dengan pembagian lampu hemat energi.
(ir/qom)











































