Privatisasi Garuda diperlukan karena sektor penerbangan (airlines) di Indonesia sangat kompetitif dengan 22 airlines yang beroperasi di Indonesia.
Demikian isi bahan rapat antara Kementerian Negara BUMN dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa malam (5/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Strategic partner diperlukan untuk melakukan turn around terhadap Garuda, selain itu privatisasi ini diperlukan karena Garuda akan melakukan restrukturisasi utangnya sebesar US$ 836,1 juta.
Sepanjang 2007, prognosa pendapatan Garuda diperkirakan mencapai Rp 13,773 triliun atau naik dari pendapatan 2006 yang sebesar Rp 12,34 triliun.
Pada tahun 2007 Garuda juga diperkirakan akan memperoleh laba untuk pertama kalinya sebesar Rp 250,78 miliar, tahun 2006 Garuda mengalami kerugian sebesar Rp 197,07 miliar.
Selain Garuda, PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) juga dimasukkan sebagai carry over 2007 yang masuk dalam program privatisasi tahun 2008. Dengan alasan yang sama dengan Garuda akan tetapi saham pemerintah yang akan dijual kepada strategic partner maksimal 40 persen.
Kinerja Merpati di 2007 untuk pendapatan diperkirakan memperoleh Rp 1,89 triliun, naik dari pendapatan 2006 yang sebesar Rp 1,31 triliun. Namun Merpati dipekirakan masih akan merugi sebesar Rp 144,8 miliar, atau turun dari rugi bersih 2006 yang sebesar Rp 288,22 miliar. (dnl/ir)











































