RI Masih Bisa Terima Dampak Perlambatan Ekonomi Dunia

RI Masih Bisa Terima Dampak Perlambatan Ekonomi Dunia

- detikFinance
Rabu, 06 Feb 2008 13:57 WIB
Jakarta - Indonesia tak dapat melawan dampak dari perlambatan ekonomi dunia. Namun dampak perlambatan itu bagi perekonomian Indonesia masih dapat dikompensasi oleh terdiversifikasinya negara tujuan ekspor.

"Sehingga ketergantungan terhadap perdagangan negara maju semakin menurun," kata Amril Arif, Direktur Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI dalam siaran pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (6/2/2008).

Ia menjelaskan, dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat dihindari karena perdagangan intraregional Asia saat ini sudah semakin meningkat. Permintaan domestik dari negara China dan India memberikan peluang tetap tingginya kinerja ekspor, termasuk permintaan terhadap komoditi non migas.

RDG hari ini memutuskan mempertahankan BI Rate 8%. Keputusan itu diambil setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi makroekonomi Indonesia, prospek ekonomi moneter ke depan, berbagai faktor risiko yang dihadapi, serta pencapaian sasaran inflasi jangka pendek maupun menengah yaitu sebesar 5% plus minus 1% untuk tahun 2008, 4,5% plus minus 1% untuk tahun 2009 dan 4% plus minus1% pada 2010.

Secara umum, perekonomian Indonesia masih menunjukkan stabilitas yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi 2007 diprakirakan sesuai dengan asumsi APBN 2007, yaitu sekitar 6,3%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga serta ekspor. Di sisi lain, respons yang memadai terhadap peningkatan permintaan masih terus diperlihatkan oleh sisi penawaran.

"Bank Indonesia terus mencermati dan mewaspadai perkembangan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, khususnya terkait dengan potensi resesi ekonomi di AS, dan meningkatnya harga komoditas di pasar internasional, serta masih berlangsungnya turbulensi di pasar keuangan global," ujar Gubernur BI Burhanuddin Abdullah.

Terkait dengan inflasi, meningkatnya harga-harga komoditas khususnya bahan pangan dan minyak secara internasional berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi domestik. Inflasi IHK pada Januari 2008 tercatat sebesar 1,77% atau secara tahunan mencapai 7,36%.

"Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh komponen inflasi bahan makanan bergejolak (volatile food) dan inflasi inti yang terpengaruh oleh tingginya harga komoditas, pelemahan nilai tukar di awal Januari 2008 dan ekspektasi inflasi yang sedikit lebih tinggi dibanding periode sebelumnya," jelas Amril.
(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads