Alasannya dengan adanya pembatasan tersebut peluang pemakaian BBM non subsidi terutama untuk kendaraan niaga akan semakin tinggi sehingga secara tidak langsung mendongkrak harga barang.
Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Bambang Trisulo kepada detikFinance, Jumat (8/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya kebijakan ini setidaknya akan mempengaruhi pola konsumsi BBM, sehingga akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi.
Pertama jatah kebutuhan BBM subsidi setiap kendaraan akan dicampur dengan yang non subsidi untuk menambal kebutuhan harian. Kedua akan ada peluang pembelian BBM pompa bensin liar, untuk menambah kekurangan kebutuhan.
"Intinya dua kemungkinan tersebut akan sama-sama mendongkrak harga transportasi yang lebih tinggi," imbuhnya.
Lalu mengenai kemungkinan adanya penurunan daya konsumsi untuk pembelian kendaraan roda empat baru, Bambang tidak mau banyak komentar mengenai ini.
"Paling-paling bagi pengendara yang untuk jalan-jalan saja ada dampaknya, tapi untuk niaga dan kebutuhan kerja tidak akan banyak berpengaruh," kata Bambang beralasan.
Tetapi ia menggaris bawahi target pertumbuhan 20% untuk penjualan mobil tahun 2008 yang diperkirakan akan mencapai 500 ribu unit akan sangat tergantung berapa besar inflasi yang terjadi.
"Target pertumbuhan 20% konsumsi mobil tahun ini, kami patok pada asumsi inflasi maksimal 7%, sehingga kalau bisa naik di atas itu secara tidak langsung pasti ada dampaknya," ujarnya.
Bambang tidak berani memprediksi sejauh mana dampak terhadap penjualan mobil tahun ini. "Kita lihat saja selama tiga bulan pelaksanaan kebijakan ini, sejauh mana mempengaruhi inflasi," ujarnya. (hen/ir)











































