Disampaikan oleh Direktur Kerjasama Regional Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Departemen Perdagangan (Depdag) Iman Pambagyo dalam acara diskusi mengenai FTA ASEAN, di Gedung Depdag, Jumat (8/2/2008).
"Dengan adanya upaya negosiasi ini positifnya adanya peyelesaian pekerjaan rumah yaitu hal-hal yang belum diratifikasi sektor-sektor yang diprioritaskan. Manfaatnya tidak bisa dirasakan sekarang ini, tapi jangka menengah dan panjang," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu penjajakan telah dilakukan ASEAN-Korea pada 15-18 Januari 2008 yang dilakukan di Philipina. Terakhir dilakukan ASEAN-Uni Eropa pada 28 Januari -1 Februari 2008 dan kemungkinan penjajakan dengan New Zealand.
Sebelumnya sudah ada penjajakan FTA dengan beberapa negara seperti Jepang dan China.
Menurut Iman, nantinya kemungkinan untuk mengantisipasi hal ini, negara-negara ASEAN masing-masing akan fokus ke industri tertentu.
"Bila ASEAN sebagai satu pasar, maka akan menjadi satu pintu masuk. Tinggal bagaimana kita menjamin bahwa kita harus dapat keuntungan jangka panjang," ucapnya.
Ia mencontohkan agar kepentingan Indonesia bisa terakomodir, misalnya dalam kerangka FTA ASEAN-New Zealand nantinya bisa dikembangkan langkah keseimbangan kepentingan misalnya produk susu dan keju dari New Zealand bisa masuk bebas namun harus ada posisi tawar lainnya.
"Keseimbangannya bisa dalam bentuk investasi dari mereka ke Indonesia, bea siswa dan lain-lain," katanya.
Untuk Australia misalnya keseimbangan itu bisa diperoleh dengan penetrasi untuk tenaga kerja Indonesia ke sana.
"Dengan Australia kita belum seimbang, jadi harus ada keseimbangan," katanya lagi.
Untuk itu menurutnya, FTA ASEAN itu harus diseimbangkan dengan adanya kesepakatan yang lebih diutamakan yaitu kerjasama bilateral disamping kerjasama multiteral.
"Pada prinsipnya kepentingan yang lebih kuat dan diutamakan adalah kerjasama bilateral," ucapnya.
Menurut Iman, FTA merupakan bagian dari tren global yang semakin ada kecenderungan dimana-mana karena dengan cara seperti itu pasar global bisa menjadi konkrit dengan membentuk kesatuan regional.
(hen/arn)











































