Operasi Stabilisasi Harga Beras Belum Turunkan Harga

Operasi Stabilisasi Harga Beras Belum Turunkan Harga

- detikFinance
Jumat, 08 Feb 2008 17:28 WIB
Jakarta - Departemen Perdagangan menyatakan operasi stabilisasi harga beras (OSHB) yang telah berlangsung dua bulan, belum bisa mencapai target penurunan harga.

Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan (Depdag) Ardiansyah Parman, di Gedung Depdag, Jumat (8/2/2008).

"Memang hasil pantauan BPS harga termurah mereka di atas Rp 4750 (IR 64) per kilo, memang target kita adalah Rp 4750 per kg," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu, menurutnya sekarang ini Bulog ditugaskan agar terus melakukan OSHB. Tetapi ia juga mengingatkan bahwa harga beras jangan sampai terlalu murah dari harga Rp 4.000 per kilogram ditingkat petani.

"Bulog harus tetap menjaga ini," serunya.

Ardiansyah memperkirakan harga akan mulai melambat turun pada bulan Maret karena pada bulan itu diperkirakan panen sudah berlangsung.

Namun ia beralasan, bahwa belum tercapainya OSHB, menurutnya bukan karena faktor stok atau pun masalah distribusi.

"Kalau dari segi pasokan saya kira cukup, karena jenis berasnya bervariasi karena yang dipantau BPS itu adalah yang termurah ditempat masing-masing karena bisa saja jenis
berasnya tidak sama," kata Ardiansyah.

Ia menegaskan bahwa kalau yang diukur adalah sama dengan kualitas Bulog maka akan tercapai target.

"Jadi pengertian termurah di BPS itu bukan sekelas dengan kualitas yang sama dengan beras Bulog," katanya.

Menurutnya yang terpenting sekarang ini adalah masyarakat bisa menikmati harga beras dengan murah, terutama dengan adanya beras raskin. Untuk beras OSHB, menurutnya penggunaanya boleh memakai beras apa saja.

"Beras yang murah itu adalah beras yang terbanyak dikonsumsi, kalau yang termurah itu bukan yang terbanyak tetapi yang termurah didaerah itu, murahnya di daerah itu bisa saja Rp 5000 per kilo," ujarnya.

Ia juga menyerukan kepada Bulog jangan hanya menstabilkan harga beras yang murah saja tapi juga yang jenis premium pun harus menjadi sasaran.

"Yang berpengaruh dengan inflasi itu justru beras premium," katanya.

(hen/arn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads