"Ekonomi Asia tidak sepenuhnya kebal terhadap goncangan pasar global dan perkembangan yang negatif," kata Presiden ADB Haruhiko Kuroda dalam sebuah simposium di Tokyo mengawali pertemuan akhir mingguan menteri keuangan negara-negara G7, seperti dikutip AFP, Jumat (8/2/2008).
"Resesi AS yang dalam dan berkepanjangan, bisa saja diikuti perlambatan pertumbuhan Asia. Perlambatan ekonomi AS yang signifikan terutama akan berdampak pada laju perdagangan, investasi dan perputaran uang," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Krisis kredit perumahan berisiko tinggi atau subprime mortgage yang muncul tahun lalu telah menunjukkan pada dunia betapa banyaknya warga Amerika yang gagal membayar sisa kredit perumahan mereka.
Meskipun bank-bank Asia sudah lebih sedikit menyingkap kerugian akibat subprime dibanding bank-bank di AS dan Eropa, namun ekuitas negaranya tetap saja terlihat bergejolak.
Menurut Kuroda, pemerintah harus terus menekan godaan-godaan manajemen makroekonomi, mengetatkan pengawasan institusi keuangan dengan bijaksana dan meningkatkan bantalan struktural melalui usaha perbaikan yang lebih komprehensif.
Â
Ia juga menyatakan negara Asia Tenggara dan Timur termasuk Jepang dan China bisa saja menerapkan kebijakan fiskal sebagai stimulus jika pertumbuhan global melambat, tapi menurutnya saat ini bukan saat yang tepat.
"Kalau memungkinkan, mendorong ekonomi di Asia dengan meningkatkan fiskal dapat menjadi stimulus. Tapi tahun lalu banyak ekonomi negara Asia termasuk China yang memanas dengan percepatan inflasi. Bagi mereka tantangan yang terpenting tetap bagaimana membuat tekanan inflasi ketimbang menerapkan stimulus fiskal," ujarnya.
"Pada tahap ini, ekonomi Asia telah menaikkan tekanan inflasi lebih baik dibanding prospek resesi," imbuhnya. Â
(lih/ddn)











































