Hal tersebut disampaikan Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali usai rapat koordinasi di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (8/2/2008) malam.
"Subsidi itu bukan hanya pada pengrajin yang tergabung dalam koperasi, ada yang tidak tergabung dalam koperasi. Kita sedang memikirkan jalan yang terbaik untuk bisa menyalurkan kedelai bersubsidi. Sedang dicarikan teknis yang mudah tetapi akuntabel," ujarnya.
Pemerintah kini tengah mencari mekanisme pemberian subsidi yang aman apakah dengan cara kupon, kemudian juga pemikiran lewat distributor, tetapi harga jual dipatok.
"Nah untuk jangka panjang penyelesaiannya tentunya harus diperhatikan dari semua sisi, sisi petani, produsen dan konsumen. Ini kita sedang cari jalan keluar untuk jangka pendek. Untuk jangka menengah dan panjang, tentu petani akan diperhatikan," ujarnya.
Meski harga bahan baku kedelai mengalami kenaikan yang cukup tinggi, pengrajin tahu dan tempe yang sebagian besar pengusaha UKM tetap bisa berproduksi normal.
"Ada kurang lebih 115 ribu UKM yang terlibat dalam industri tahu tempe dan perdagangannya. Sampai sejauh ini menurut pengamatan saya mereka jalan sih, karena kedelai juga sudah turun harganya dari Rp 8.000 sekarang harga di tingkat distributor Rp 6.700-Rp 6.800," ujarnya.
Untuk menyiasati kenaikan tahu dan tempe yang mencapai 20-25 persen, pengrajin tempe ada yang tidak menaikkan harga, ada yang mengurangi produksinya.
"Nah produsen tempe ada yang tidak menaikkan harga, cuma ukurannya yang dimainkan atau dikecilkan. Jadi pada waktu itu ketika tahu tempe tidak ada di pasaran itu karena demo, setelah demo selesai semua kembali normal, memang ada kenaikan harga," ujarnya.
(ddn/ddn)











































