Demikian salah satu draf kesepakatan menteri-menteri keuangan G7 yang mengadakan pertemuan di Tokyo seperti dilansir AFP, Sabtu (9/2/2008).
"Kami meminta negara-negara penghasil minyak untuk meningkatkan produksi, memperbaiki kapasitas kilang dan meningkatkan efisiensi energi," tulis pernyataan tersebut.
Mengawali tahun ini, harga minyak sempat menembus US$ 100 per barel, namun kembali turun setelah adanya penurunan permintaan akibat perlambatan ekonomi di AS.
Menkeu-menkeu G7 juga tidak berniat untuk menurunkan harga-harga energi dalam negeri dengan cara pemotongan pajak ataupun pemberian subsidi. Jika ini dilakukan selain mengganggu pasar energi juga meningkatkan emisi gas.
Selain soal minyak, G7 juga menilai akan terjadi perlambatan ekonomi secara global dalam jangka pendek meski secara fundamental ekonomi masih kuat. Ekonomi di AS mengalami peningkatan risiko di sektor perumahan.
G7 meminta lembaga-lembaga keuangan untuk mengakui setiap kerugian yang diderita akibat krisis subprime di AS. Bank-bank di dunia khususnya di AS dan Eropa sudah mengalami kerugian cukup besar akibat eksposur kredit subprime.
"Menteri Keuangan dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan AS siap untuk melakukan langkah-langkah dalam meningkatkan stabilitas di pasar keuangan," tulis pernyataan tersebut.
(ddn/ddn)











































