Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko kepada detikFinance, Senin (12/2/2008).
"Proses distribusi dan produksi mereka terganggu walaupun mereka tidak terkena dampak langsung. Sekarang ini ada tiga yang memutuskan untuk relokasi, dua pabrik sedang dalam proses perpindahan, satu pabrik sudah selesai membangun pabrik baru,"
katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua pabrik asing tersebut rencananya akan pindah ke wilayah Gresik dan satu pabrik sudah mendirikan pabrik di Sidoarjo dekat bandar udara.
Menurut Eddy langkah tiga pabrik sepatu tersebut untuk pindah lokasi disebabkan karena mereka sudah tidak sabar menunggu ketidakpastian usaha di kawasan semburan lumpur.
"Tadinya mereka mau menunggu sampai lumpur reda dan ada janji dari pemerintah pada tahun 2008 ada akses tol baru, tetapi karena mereka melihat belum terealisasi akhinya mereka pindah," katanya.
Selain itu juga, faktor produksi yang terhambat akibat tenaga kerja yang terganggu aksesnya untuk menuju pabrik. Bahkan untuk proses distribusi terkendala akibat jalur distribusi yang lambat karena sering terjadi kemacetan.
"Banyak karyawan mereka yang datang telat, karena umumnya hampir sebagian besar karyawan mereka tinggal di Sidoarjo," keluhnya.
Dari tiga pabrik yang relokasi diperkirakan memiliki kapasitas produksi 420 ribu pasang sepatu per bulan. Bahkan tiga pabrik tersebut mampu menyerap 2.600 tenaga kerja. (hen/ir)










































