"Negara kita tropis, punya banyak sumber daya genetik di lahan, hutan kebun. Dan banyak diantara tanaman liar itu yang layak dikembangkan," kata Dirjen Hortikultura Departemen Pertanian (Deptan), Ahmad Dimyati dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Selasa (12/2/2008).
Beberapa tanaman yang semula adalah tanaman liar dan bisa dibudidayakan antara lain untuk jenis bunga potong yang layak adalah Costus, Kecombrang, Helikonia, Calathea, Anthurium bunga, beragam jenis Anggrek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanaman pot seperti Aglonema, Asplenium, Suplir, Alokasia, Caladium, Adiantum.
"Masih banyak lagi, tapi rata-rata sudah dikembangkan misalnya Sansiviera. Kita harus jeli melihat potensi pasar, sebenarnya tanaman hias asli Indonesia sangat diminati negara lain. Kita telah mengekspor ke Jepang, Eropa dan Amerika " ujarnya.
Pemerintah kini sedang membahas jenis insentif yang akan diberikan untuk pengembangan industri tanaman hias ini.
"Kita masih terus menerus membahas insentif apa yang diperlukan oleh industri tanaman hias agar masyarakat semangat membudidayakan tanaman hias. selain menghapus disinsentif seperti pungutan retribusi, biaya perizinan," tambahnya.
Berbagai insentif itu akan diberikan karena pemerintah kini sadar setelah boomingnya anthurium, ternyata tanaman hias mampu menyedot tenaga kerja yang tidak sedikit. Khususnya kaum perempuan.
"Tampaknya insentif yang kemungkinan bisa diberikan adalah dalam bentuk keringanan bunga bank dan keleluasaan pinjaman modal, mengingat bisnis ini rentan rugi. Tapi ini masih perlu pembahasan panjang dengan perbankan," ungkapnya.
Sejumlah daerah, kata Ahmad, juga mendapatkan berkah dari booming tanaman hias. Beberapa daerah produsen itu antara lain Cihideung (Bandung), Batu (Malang), Kopeng (Salatiga).
(arn/qom)











































