"Jadi pada dasarnya negara-negara Eropa, tidak sabar terhadap kecepatan fleksibilitas nilai tukar di China yang dianggap tidak bisa menunjang misi global yang harusnya bisa ditopang semua negara," ujar Menkeu Sri Mulyani usai rapat panitia khusus LPEI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (13/2/2008).
Menurut Menkeu, dengan cadangan devisa di atas US$ 1 triliun, harusnya pergerakan yuan harus mengikuti pergerakan pasar, tidak dipatok lagi hal ini perlu untuk menyeimbangkan ekonomi global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara Eropa merasa dirugikan karena ada mata uang China yang masih peg kepada dolar AS padahal dia surplusnya sudah sangat tinggi.
Selain soal nilai tukar China, dalam pertemuan G7 yang ikut dihadiri Sri Mulyani itu juga membahas kecenderungan penggunaan dana atau sovereign wealth fund dimana-dimana yang prinsip tranparansi dan etikanya berbeda dengan fund-fund yang sifatnya komersial. (ddn/ir)











































