"Itu sudah waktunya, bahkan harusnya sebelumnya," ujar Menko Perekonomnian Boediono usai musyawarah Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (14/2/2008).
Perbaikan rating itu, menurut Boediono, akan mengurangi premium risiko ketika perusahaan-perusahaan asal Indonesia meminjam dana dari luar negeri.
"Itu akan lebih murah, jadi akan bagus bagi perusahaan dari Indonesia," ujarnya.
Fitch menaikkan peringkat Indonesia dari 'BB-' menjadi 'BB', karena pemerintah dinilai telah melakukan berbagai perbaikan signifikan ditengah kondisi perekonomian global yang sedang tidak menguntungkan.
Fitch menilai kebijakan makro ekonomi yang pragmatis telah membuat perekonomian Indonesia menjadi lebih kuat dengan pertumbuhan PDB di atas 6% sejak kuartal IV-2006. Permintaan rumah tangga yang memberi kontribusi sekitar 60% dari PDB secara perlahan mulai bisa menutupi berkurangnya permintaan eksternal. Sementara kenaikan investasi swasta baik asing maupun lokal juga mulai mendukung pertumbuhan dalam jangka menengah-panjang.
Dari sisi depan eksternal, kenaikan cadangan devisa yang besar telah memberi bantalan yang lebih baik untuk menahan Indonesia dari kemungkinan goncangan. Indonesia pada tahun 2007 berhasil mencatat surplus neraca berjalan sebesar 2,8%.
Indonesia juga memperbaiki keuangan publik yang merupakan kekuatan rating secara fundamental. Selama 1998-2007, defisit fiskal Indonesia rata-rata sudah mencapai 1,2% dari PDB, atau kurang dari median peringkat 'BB'. Kehati-hatian kebijakan fiskal juga memberi pengurangan yang signifikan pada utang pemerintah yang pada tahun ini diperkirakan mencapai 35% dari PDB, atau hampir menyamai rekor sebelum krisis tahun 1997 dan pas dengan median peringkat 'BB'.
Namun Fitch tetap mengingatkan bahwa neraca eksternal Indonesia masih menghadapi risiko sebagaimana naiknya risiko di pasar negara berkembang yang bisa mengarah ke gangguan aliran modal ke pasar saham ataupun instrumen utang.
Dalam sambutannya, Boediono mengatakan selama dirinya terlibat dalam pengambilan keputusan, yang paling penting dalam pengelolaan ekonomi makro adalah adanya kepercayaan dari para pelaku ekonomi, bagaimana mengelola kepercayaan itu.
"Saya belajar ekonomi di Universitas itu ada text book-nya tebal-tebal, matematikanya, kurva, macam-macam. Ada yang missing kalau orang mau menerapkan ekonomi praktis. Ekonomi makro selalu digambarkan dengan kurva-kurva, tetapi kenyataannya ekonomi makro adalah bagaimana pengelolaan confident-nya, itulah yang harus kita jaga," pungkas Boediono. (qom/ir)











































