Ajakan di atas ia sampaikan saat membuka Rakernas Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) di Istana Negara Jl. Veteran, Jakarta, Jumat (15/2/2008).
"Ini tantangan yang luar biasa, jangan berkecil hati. Pasti ada jalan, jika ada penghematan. Itu dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi nasional, menjaga APBN dan APBD. Bukan untuk menunda-nunda pelaksanaan APBN," kata SBY.
Di lingkungan rumah tangga kepresidenan sendiri, SBY juga memberlakukan penghematan. Sejumlah rencana proyek yang tidak mendesak, telah ia perintahkan untuk ditunda pelaksanaannya. Anggaran yang tersisa kemudian disalurkan untuk kepentingan lain yang lebih mendesak bagi rakyat.
"Tahun ini saya kembalikan Rp78 miliar untuk digunakan yang lain. Tahun sebelumnya Rp60 miliar. Saya ajak yang lain juga demikian, kalau bisa ditunda, mari kita tunda untuk kepentingan rakyat yang lebih memerlukan," tandasnya.
Presiden menjelaskan, untuk setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barelnya akan meningkatkan nilai subsidi BBM dan listrik sebesar Rp3,7 triliun. Begitu pula jika nilai tukar rupiah anjlok Rp100, rupiah maka subsidi BBM dan listrik makan beban pemerintah akan naik sekitar Rp3,5 triliun lagi. Sehingga total beban subsidi BBM bisa mencapai Rp250 triliun.
Mencegah APBN kolaps, maka pemerintah telah mengajukan rancangan perubahan APBN 2008 ke DPR. Bersamaan dengan itu berbagai program penghematan dijalankan. Seperti menghemat pengeluaran tiap departemen sebesar 15 persen dari pagu, mengeluarkan paket kebijakan stabilisasi harga dan rencana pembatasan penggunaan BBM jenis premium untuk kendaraan pribadi.
"Kalau APBN tidak diubah maka bisa kolaps. sehingga perlu ada penghematan. Yang kaya jangan harap terus mendapat subsidi," katanya.
(lh/qom)











































