Kerugian itu sudah termasuk kerugian dari lembaga keuangan global, penghapusan aset-aset dan kredit-kredit non lembaga keuangan yang memiliki eksposure ke kredit subprime.
Demikian dikatakan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengenai hasil pertemuan G-7 di Tokyo pekan lalu yang juga dihadiri oleh delegasi pemerintah Indonesia, dalam perbincangan di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (15/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggito menjelaskan, untuk kerugian yang diderita lembaga keuangan saja jumlahnya mencapai US$ 146 miliar. Kerugian ini sudah diinjeksi oleh badan investasi pemerintah di kawasan Asia dan Timur Tengah yakni injeksi Citigroup oleh Abu Dhabi Investment Authority senilai US$ 7,5 miliar.
Kemudian Standard Chartered Bank, Merrill Lynch dan Barclays yang diinjeksi oleh Temasek sebesar US$ 18,9 miliar. UBS dan Citigroup sebesar US$ 18,82 miliar oleh pemerintah Singapura. Morgan Stanley dan Blackstone sebesar US$ 8 miliar oleh China Investment Corporation. Serta lain-lain sebesar US$ 13,58 miliar.
Negara-negara G-7 menurut Anggito, dalam pertemuan di Tokyo pekan lalu juga sepakat untuk membantu mengatasi dampak subprime. Forum seperti komite kebijakan sektor keuangan akan mengkordinasikan bantuan likuiditas, identifikasi kerugian yang terjadi, pengembalian fungsi pasar keuangan secara normal dan perbaikan tingkat transportasi.
G-7 juga meminta IMF untuk mengawasi pergerakan nilai tukar mata uang, sektor fiskal dan kebijakan moneter setiap negara.
"Meskipun IMF sendiri sedang mengalami masalah internal karena kekurangan modal," katanya.
IMF dan Bank Dunia juga didesak untuk meningkatkan upaya melawan kegiatan pencucian uang dan pendanaan terorisme.
(ir/qom)










































