Demikian kata Presiden SBY saat membuka Rakernas Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) di Istana Negara, Jl. Veteran, Jakarta, Jumat (15/2/2008).
"Dalam perubahan APBN 2008, growth 6,8 persen tidak mungkin dicapai. Kita harapkan bisa 6,4 persen. Semua negara juga menurunkannya (asumsi pertumbuhan masing-masing)," kata SBY.
Asumsi makro lainnya juga dilakukan penyesuaian. Untuk tingkat inflasi dari 6 persen menjadi 6,5 persen, nilai tukar rupiah dari Rp 9.100 ke Rp 9.150 per dolar AS, harga minyak naik dari US$ 60 menjadi US$ 83 per barel, dan produksi minyak diturunkan dari 1,034 juta menjadi 910.000 barel per hari.
Sedangkan target pendapatan negara dinaikkan dari Rp 781,4 triliun menjadi Rp 839 triliun dan belanja negara naik dari Rp 854,6 triliun menjadi Rp926 triliun. Sehingga defisit 2008 naik dua persendari Rp 73,3 triliun, atau menjadi Rp 87 triliun.
"Ini tantangan yang luar biasa. Harus disampaikan ke masyarakat bahwa ini untuk menyelamatkan ekonomi nasional," imbuh presiden. (lh/qom)











































