"Buku ini tidak membicarakan tentang Eddie Widiono, tidak membicarakan PLN tetapi lebih membahas mengenai kebebasan pers di Indonesia," katanya dalam acara peluncuran buku Eddie Widiono di Bawah Pusaran Media di Hotel Four Seasons, Sabtu malam (16/2/2008).
Walaupun judulnya termuat nama Eddie namun secara umum isi dari buku ini tidak menyinggung secara khusus sosok pribadi Eddie. Buku yang memiliki tebal 159 halaman ini fokus pada masalah upaya media menyoroti sosok Eddie Widiono.
Yaitu dalam kasus dugaan korupsi Eddie dalam mark up pengadaan mesin pembangkit listrik tenaga gas dan uap di Borang Palembang Sumatra Selatan tahun 2005 lalu yang berpotensi merugikan keuangan negara sebesar Rp 122 miliar.
Ditanya mengenai sejauh mana ia turut campur dalam penulisan buku ini, ia tidak merinci secara detail sejauh mana keterlibatannya. "Ya yang jelas saya memberikan support tapi tidak banyak, ini murni karya penulisnya," ujar Eddie.
Sedangkan mantan pemimpin redaksi Surabaya Post Sirikit Syah yang dipercaya memberikan kata pengantar dalam buku ini cukup memberikan catatan yang tajam terhadap dibalik kepentingan buku ini.
"Buku ini agak terlalu sempit karena hanya menyoroti kasus tertentu dan karenanya rawan dituduh sebagai 'buku/riset tersponsor'," ujarnya.
Lalu Firman Yursak selaku penulis buku ini menilai pemilihan sosok Eddie Widiono sebagai sosok objek yang menjadi kajiannya tidak terlepas dari faktor posisi Eddie sebagai Dirut PLN yang rentan menjadi sosok penjabat yang dipojokan karena memegang tampuk perusahaan negara yang seringkali dianggap tidak memuaskan pelayanan kepada masyarakat.
"Sebagai pejabat publik, ia sering menjadi sorotan publik. Terutama terkait listrik sebagai kebutuhan banyak orang, maka sering menjadi sasaran kambing hitam termasuk sebagai ujung permasalahan dibidang kelistrikan dalam negeri, terutama soal kepuasan kepada masyarakat," ujarnya.
(hen/ddn)











































