Konversi BBM ke Bio Energi Hasilkan Devisa US$ 25 M

Konversi BBM ke Bio Energi Hasilkan Devisa US$ 25 M

- detikFinance
Senin, 18 Feb 2008 13:33 WIB
Yogyakarta - Pemakaian bio energi sudah digalakkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu. Apabila bio energi dapat mengkonversi pemakaian BBM yang mencapai 50 juta KL per tahun, maka produksi bio energi dapat menyumbang penerimaan negara hingga US$ 25 miliar.

Hal itu diungkapkan Presiden Direktur PT Humpuss Eko Putro Sandjojo saat acara penandatanganan perjanjian kerjasama Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan PT Humpusss untuk penelitian dan pengembangan ethanol dan energi alternatif lainnya di gedung Graha Sabha Pramana, Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (18/2/2008).

Eko menjelaskan, konsumsi BBM di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 50 juta Kiloliter (KL). Bila dirata-rata dengan harga BBM Rp 5 ribu per liter, berarti masyarakat selama setahun merogoh kocek lebih dari Rp 250 triliun hanya untuk konsumsi BBM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Peralihan energi dari minyak bumi ke energi bio dari tanaman pangan seperti jagung dan singkong saat ini sudah tidak bisa dihindari lagi. Sebab negara-negara lain sudah mencoba seperti Cina dan Amerika Serikat. Kita harus cepat-cepat melakukannya," kata Eko.

Menurut dia, 1 liter ethanol membutuhkan 3 kg jagung, maka 25 juta KL ethanol akan membutuhkan 75 juta ton jagung. Jika 1 hektar lahan dapat menghasilkan 10 ton jagung dalam dua kali panen berarti dibutuhkan tambahan lahan sekitar 7,5 juta Ha lahan untuk kebutuhan energi.

"Kalau digabungkan dengan substitusi ke bio diesel, substitusi ke bio energi ini akan mampu menciptakan lapangan kerja baru lebih dari 20 juta orang," katanya.

Apabila dalam 1 Ha dibutuhkan rata-rata dua pekerja saja maka akan tercipta lapangan kerja untuk 15 juta orang.

Eko mengatakan sekarang ini adalah momen yang tepat bagi Indonesia untuk mengembangkan bio energi, mengingat lahan pertanian yang begitu luas. Hanya saja untuk tanaman penghasil bio energi seperti jagung dan singkong selama ini belum banyak dikembangkan sebagai tanaman utama.

"Di berbagai daerah di luar Pulau Jawa harus mampu menghasilkan lebih banya lagi sehingga mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas," kata Eko.

"Saat ini baru penelitian awal khususnya untuk mencari teknologi yang paling tepat untuk pengembangan energi ini. Sebenarnya teknologinya sudah ada seperti yang dikembangkan Jerman, Cina dan AS, tetapi kan kita harus mencari yang paling tepat," tambah Eko. (bgs/arn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads