Lonjakan harga minyak ke level terbarunya itu dipicu oleh spekulasi yang semakin menjadi-jadi terkait rencana OPEC untuk memangkas produksi dan faktor geopolitik di Venezuela dan Nigeria.
Kontrak utama New York pada Selasa (19/2/2008) untuk minyak jenis light pengiriman Maret sempat melonjak hingga US$ 100,10 per barel, yang merupakan harga tertinggi. Namun pada penutupan, harga minyak berada pada level US$ 100,01, atau berarti naik hingga 4,51 dolar.
Kontrak New York ini sempat menembus level US$ 100,09 per barel untuk perdagangan intraday pada 2 Januari lalu.
Sementara di London, harga minyak jenis Brent pengiriman April juga melonjak hingga US$ 3,65 per barel ke level US$ 98,56 per barel.
"Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh musim dingin yang belum juga usai dan ledakan kilang minyak, serta sikap OPEC yang tidak menghargai perekonomian dunia," jelas Phil Flynn, analis dari Alaron Trading seperti dikutip dari AFP, Rabu (20/2/2008).
Analis menyatakan bahwa spekulasi meningkat tentang kemungkinan OPEC memangkas kuota produksinya dalam pertemuan di Wina, 5 Maret mendatang.
Sentimen lainnya adalah kekisruhan antara Venezuela dan ExxonMobil terkait nasionalisasi aset. Padahal Venezuela merupakan salah satu penghasil minyak penting dunia dan penyuplai penting bagi AS.
"Harga minyak berjangka melonjak karena adanya technical buying yang dipicu berlanjutnya masalah antara Venezuela dan Exxon, serta spekulasi akan dipangkasnya kuota produksi OPEC saat mereka bertemu Maret nanti," ujar Nimit Khamar, analis dari Sucden.
"Ada bukti yang jelas bahwa para spekulator sudah kembali lagi ke pasar minyak," imbuhnya.
OPEC dalam pertemuan terakhirnya akhir bulan lalu memutuskan untuk mempertahankan kuota produksi 29,67 juta barel. Namun untuk pertemuan mendatang, OPEC kemungkinan besar akan menurunkan produksinya.
"Sepertinya OPEC hanya fokus pada harga, dan tak peduli tentang kondisi perekonomian," kritik Mike Fitzpatrick, dari MF Global.
(qom/qom)










































