Pelabuhan 'Tikus' di Batam Sulit Dipantau Bea Cukai

Pelabuhan 'Tikus' di Batam Sulit Dipantau Bea Cukai

- detikFinance
Rabu, 20 Feb 2008 11:45 WIB
Jakarta - Ditjen Bea Cukai mengaku kesulitan dalam mengawasi pelabuhan-pelabuhan tidak resmi khususnya di Batam. Padahal di Batam ini akan diterapkan sebagai kawasan Free Trade Zone.

"Di Batam ada 42 pelabuhan tikus yang merepotkan kita," ujar Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/2/2008).

Anwar pun mengkhawatirkan penurunan penerimaan bea masuk begitu kawasan Batam Bintan dan Karimu ditetapkan sebagai kawasan free trade zone.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"FTZ sebentar lagi, ada potential loss di Batam Bintan Karimun karena berpulau-pulau dan itu rawan penyelundupan," ujarnya.

Hal lain yang menjadi bahan pertimbangan adalah penurunan kecenderungan penurunan tarif bea masuk. Sejak 2005 tarif bea masuk mengalami penurunan mulai dari 10,38 persen menjadi 8,80 ppersen pada 2010.

Meskipun demikian Bea Cukai akan melakukan peningkatkan kepatuhan terhadap peraturan atau market forces, peningkatan registrasi importir karena banyak importir yang alamatnya tidak jelas.

"Alamatnya ada yang di kuburan, kita cek ulang," ujarnya.

Bagi importir atau eksportir yang bagus akan diberi fasilitas apakah itu jalur hijau atau jalur mitra utama atau fasilitas lainnya. (ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads