Rapat yang berlangsung di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (20/2/2008) sudah dibuka jam 09.00 WIB. Namun raker akhirnya diskors menunggu kehadiran Menneg BUMN.
Rapat sempat dibuka setelah hadirnya wakil Menneg BUMN yakni Deputi Menneg BUMN bidang perbankan dan jasa keuangan Parikesit Suprapto. Namun kehadiran Parikesit tetap tidak bisa diterima oleh DPR.
Setelah skorsing dicabut, masing-masing fraksi diberi kesempatan untuk memberikan pandangannya terkait ketidakhadiran Menneg BUMN. Mayoritas fraksi menolak meneruskan rapat karena menilai kehadiran Menneg BUMN penting dalam rapat kali ini.
Menurut informasi yang diperoleh, Menneg BUMN harus mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden SBY di kantor Departemen Kesehatan.
Pimpinan Komisi V DPR RI Ahmad Muqqowam mengatakan kehadiran Menneg BUMN dinilai penting untuk mempertanyakan isu yang berkembang belakangan ini yaitu pemerintah memiliki opsi untuk menjual BTN kepada bank BUMN lain.
"Hal ini perlu penjelasan dari Menneg BUMN karena isunya akan diakuisisi oleh BRI atau Mandiri, dan hal ini jelas akan memperngaruhi fungsi dan tugas BTN untuk pembiayaan perumahan," tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi V DPR RI Enggartiasto Lukita mengatakan dirinya tidak menyetujui rencana pemerintah untuk menjual BTN kepada bank lain.
"BTN harusnya dibiarkan stand alone agar bisa fokus dalam menjalankan fungsi dan tugasnya dalam membiayai perumahan, sebab kalau alasannya missmatch, bank lain pun punya masalah ini baik BNI, BRI maupun Mandiri," cetusnya.
(dnl/qom)










































