Industri Kayu RI Mengarah ke Gejala Deindustrialisasi

Industri Kayu RI Mengarah ke Gejala Deindustrialisasi

- detikFinance
Rabu, 20 Feb 2008 14:31 WIB
Jakarta - Industri barang kayu dan hasil hutan sudah mengarah pada gejala deindustrialisasi, yakni suatu keadaan yang menggambarkan kinerja industri nasional yang terpuruk.

Beberapa hal yang mendukung ke gejala tersebut adalah turunnya pertumbuhan industri, penurunan ekspor, penurunan penyerapan tenaga kerja, kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) dan lain-lain.

Demikian disampaikan oleh Kepala Badan penelitian dan pengembangan industri Departemen Perindustrian (Depperin)  Dedi Mulyadi, dalam acara seminar peran industri di masa yang akan datang dalam perekonomian Indonesia dan fenomena deindustrialisasi, di Hotel Borobudur,  Rabu (20/2/2008). 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau itu berlangsung dalam waktu yang lama terhadap beberapa variable yang mendukung ini, saya melihat industri perkayuan sudah mengarah kesana," ungkapnya.

Berdasarkan data Departemen Perindustrian pertumbuhan industri barang kayu dan hasil
hutan selalu mengalami pertumbuhan minus. Pada tahun 2005 industri ini mengalami
pertumbuhan -0,92 % tahun 2006 mencapai  -0,66 % dan tahun 2007 mencapai -1,74%.

Sedangkan dari sudut pandang perkembangan ekspor, sektor ini terus mengalami
pertumbuhan ekspor. Pada tahun 2006 mencapai US$ 3,3 miliar yang hanya tumbuh 7,78%
pada tahun 2007 justru mengalami pertumbuhan negatif  -7,83% yang hanya mencapai US$ 3,09 miliar.

Ia mengakui pengembangan industri bahan kayu dan hasil hutan sangat tergantung dengan koordinasi antar departemen.

"Memang untuk sektor ini bukan hanya tanggung jawab dari departemen perindustrian saja," katanya.

Namun secara umum industri nasional belum mengalami de-industrialisasi. Hal ini disimpulkan karena cabang-cabang industri nasional belum masuk memenuhi beberapa variable yang mendukung kearah deindustrialisasi. Walaupun ada beberapa industri baru yang mengalami pertumbuhan negatif yaitu industri tekstil, alas kaki dan barang kulit.

"Ada sektor yang mengarah dan akan terjadi yaitu industri barang kayu dan hasil hutan, tetapi untuk cabang industri kulit, tekstil masih ada harapan untuk tetap aman walaupun alami pertumbuhan minus tahun ini," katanya

Dedi menilai, bahwa walaupun sektor industri tekstil, barang kulit, alas kaki pada tahun lalu mengalami penurunan, itu bukan berarti telah mengalami deindustrialisasi.

Ia mencontohkan walaupun mengalami pertumbuhan minus pada tahun lalu, industri tekstil justru mengalami pertumbuhan nilai ekspor. "Jadi deindustrialisasi itu tidak bisa disumpulkan oleh terpenuhinya beberapa variabel saja, dan variable tersebut terpenuhi dalam waktu lama," katanya.
 
Tahun 2005 industri tekstil, barang kulit dan alas kaki mengalami pertumbuhan 1,31% saja, lalu tahun 2006 terus mengalami penurunan yang mencapai 1,23% dan pada  tahun 2007 mengalami pertumbuhan minus -3,68 %.
 
Sedangkan untuk kontribusi cabang tekstil, barang kulit dan alas kaki bagi PDB kian tahun terus mengalami penurunan misalnya pada tahun 2005 hanya alami pertumbuhan 12,2%, tahun 2006 semakin turun keangka 11,9% dan pada tahun 2007 turun drastis hanya mencapai 10,5% saja.
 
Untuk pertumbuhan nilai eskpor khususnya untuk sektor tekstil dan produk tekstil terus alami pertumbuhan misalnya tahun 2005 mencapai US$ 8,6 miliar, tahun 2006 meningkat menjadi US$ 9,4 miliar dan tahun 2007 mencapai US$ 9,8 miliar.

(hen/arn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads