Hal ini ditegaskan oleh Ketua Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Anton J Supit dalam acara seminar peran industri di masa yang akan datang dalam perekonomian Indonesia dan fenomena deindustrialisasi, di Hotel Borobudur, Rabu (20/2/2008). Â
Â
"Industri sepatu masih ada harapan, untuk itu harus ada upaya untuk menjemput bola terhadap para investor khususnya di daerah," kata Anton.
Ia menilai industri alas kaki adalah industri yang banyak menyerap tenaga kerja karena tenaga kerja tidak bisa tergantikan oleh mesin atau apapun. Dengan melihat hal ini ia mendorong pemerintah agar lebih menciptakan regulasi dan infrastruktur yang memadai bagi investor alas kaki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
mulai aktif berinvestasi di Indonesia.
Sebagai contoh tingginya minat para investor alas kaki di Indonesia dapat dilihat
dari agresifnya para investor asing dari Taiwan, China dan Korea untuk masuk ke
Indonesia.
Pada tahun 2006, ia mencatat setidaknya ada banyak perusahaan sepatu yang masuk dari
Korea seperti Poong Won, Bu Kyung dan lain-lain. "Tapi karena iklim investasi yang
kurang mendukung banyak yang membatalkan," katanya.
Sedangkan pada tahun lalu ada banyak investor asal Taiwan yang mulai masuk dan
melakukan penjajakan. "Ada 20 perusahaan Taiwan yang berbasis di China sedang menjajaki kemungkinan investasi," harapnya.
Untuk itu ia sangat optimistis kinerja sektor alas kaki tidak akan anjlok di tahun ini. Walaupun tahun 2007 lalu cabang industri alas kaki bersama barang kulit dan tekstil alami pertumbuhan -3,68%.
"Pada tahun lalu kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB masih dibawah 30%, jauh
dibawah sektor finansial dan jasa yang tumbuh melesat," ungkapnya. (hen/arn)











































