Demikian disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam jumpa pers di Departemen ESDM, Jakarta, Kamis (21/2/2008).
Pasokan LNG didorong untuk mengambil dari lapangan Tangguh, Papua train 3 dan 4. Padahal, saat ini train satu pun mengalir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalahnya, gas dari Senoro Donggi sudah terkontrak untuk Jepang. Harganya juga diperkirakan akan mahal.
"Karena gasnya cuma 2 mtpa, memang lapangannya kecil, jadi harganya jadi mahal. Makanya, kita bisa gunakan Tangguh yang sampai 7,5 mtpa," kata Purnomo.
Sementara dari Total Indonesia siap memasok 1,5 juta ton per tahun untuk domestik. Namun LNG ini digunakan untuk sekitar Bontang, Kaltim.
Namun ini tergantung negosiasi yang terjadi antara PLN dengan BP Migas sebagai pihak yang mengatur penjualan LNG.
Kendalanya tentu saja masalah harga. Pemerintah meminta agar baik pembeli dan penjual LNG itu bisa menyepakati harga tanpa subsidi dari pemerintah.
"Kalau bisa B2B (business to business), nggak pakai subsidi bisa jalan. Karena kalau dihitung, jadi lebih untung pakai gas daripada BBM," katanya.
Sementara Pelaksana Harian Deputi Direktur Energi Primer Nasri Sebayang menjelaskan, LNG Receiving Terminal yang akan dibangun di Banten baru ekonomis dengan volume 400 mmscfd.
Ia memperkirakan, harga LNG saat ini sekitar US$ 8 per mmbtu masih jauh lebih murah ketimbang menggunakan BBM yang sampai US$ 24 per mmbtu ekuivalen.
Rencananya PLN akan mulai membangun LNG Receiving Terminal ini tahun depan. "Tapi masih dikaji," katanya. (lih/ir)











































