Demikian dipaparkan Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya dalam jumpa pers di Departemen ESDM, Jakarta, Kamis (21/2/2008).
Seperti yang terjadi di PLTGU Tambak Lorok. Pada Januari realisasi MFO hanya 17.389 KL, dan permintaan Februari naik jadi 52.000 KL. Sementara HSD turun tipis dari 68.147 KL jadi 68.000 KL.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu PLTGU Grati dimana pada Januari realisasinya hanya 20.000 KL tapi pada Februari naik dua kali lipat jadi 40.000 KL.
PLTGU Gresik, pada Januari hanya butuh 20.105 KL HSD, tapi pada Februari melonjak menjadi 68.000 KL. Sementara MFO-nya naik dari 60.000 KL jadi 70.000 KL.
PLTG Muara Karang pada Januari hanya butuh 40.275 KL MFO, dan pada Februari permintaannya naik jadi 70.000 KL.
PLTGU Muara Tawar milik PJB pada Januari hanya butuh 34.000 KL HSD, sementara pada Februari naik jadi 68.000 KL. Sedangkan untuk milik PLN turun dari realisasi Januari yang 67.965 KL HSD menjadi 34.000 KL di bulan ini.
"Jadi terganggunya pembangkit PLN bukan karena ketersediaan BBM. BBM-nya ada, tapi tidak bisa merapat karena cuaca," katanya.
Kebutuhan BBM PLN meningkat jauh karena pembangkit yang biasanya menggunakan gas atau batubara beralih memakai BBM.
(lih/ir)











































