"Mereka mengajak kita mengembangkan CPO mulai dari sangat hulu sampai hilir," kata Sekretaris Timnas BBN Evita Legowo di Departemen ESDM, Jakarta, Rabu (27/2/2008).
Ia menjelaskan, saat ini Uni Eropa sedang merancang suatu UU yang akan mewajibkan semua CPO yang masuk harus dijamin berasal dari hutan yang sustainable.
"Nah untuk masalah sustainable ini, Indonesia dan Malaysia sedang jadi pusat perhatian," katanya.
Bagi Evita, Indonesia sendiri belum bisa yakin apakah hutannya merupakan hutan yang bisa dianggap sustainable. Karena belum ada definisi yang jelas mengenai sustainability.
Karenanya kerjasama dengan Jerman ini bisa sekaligus membuktikan bagaimana pengembangan CPO yang bisa lulus persyaratan Uni Eropa itu.
Selain CPO, Jerman juga tertarik untuk bekerjasama dalam pengembangan teknologi CCS (carbon captures storage). Teknologi ini berfungsi untuk menangkan carbon yang dihasilkan suatu proyek dan menginjeksikannya ke dalam tanah. Sejumlah carbon yang berhasil diinjeksikan itu bisa dijual sebagai carbon credit. (lih/qom)










































