Menurut Dirut Pertamina Ari Soemarno, harga yang ditawarkan Shell dan AKR yang menjadi pemenang lelang merupakan perhitungan point to point. Hanya dari Singapura langsung ke lokasi pembangkit yang dituju.
Sementara yang ditawarkan anak usaha Pertamina, Patra Niaga, mencakup perhitungan seluruh biaya depo Pertamina yang melayani sekitar 700 lokasi PLN. Termasuk lokasi terpencil di Papua, Ketapang, dll yang tidak mudah dicapai.
"Setelah kami bandingkan harga dari perusahaan lain yang tercantum di surat kabar dengan kontrak Pertamina-PLN yang menggunakan MOPS+9,5%, nggak fair. Kondisinya beda," katanya dalam jumpa pers di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (28/2/2008).
Menurut Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal, BBM yang dipasok Pertamina tidak langsung ke lokasi pembangkit. Tapi mampir di Balongan atau Situbondo. Dan kadang ada transhipment yang tentu saja menambah biaya.
Ari menjelaskan, jika perhitungan dilakukan seimbang dengan mekanisme point to point, Patra Niaga bisa menawarkan marjin lebih rendah 1% dari pemenang lelang.
Seperti diketahui, Shell dan AKR dikabarkan memenangkan lelang BBM PLN dengan marjin yang sangat rendah, bahkan ada yang MOPS+1,95%. Sementara Pertamina menawarkan MOPS+9,5%.
Belum lagi, Patra Niaga yang dipasok oleh Pertamina juga menghitung biaya stok nasional. Sehingga PLN bisa meminta tambahan pasokan BBM ke Pertamina berapapun dan kapanpun.
Standar stok nasional Pertamina sekitar 20-23 hari. Nilai stok nasional ini mencapai sekitar US$ 2 miliar, meski bukan untuk PLN semua.
Selain itu, penawaran yang diajukan Patra Niaga menggunakan asumsi pembayaran per tiga bulan.
"Karena dia belajar dari kita, induknya. Bagaimana sebuah BUMN biasa membayar. Dimana PLN kan masih menunggak piutang yang cukup signifikan ke kita," katanya.
Ari menegaskan, kalau hanya menghitung poin to poin, Pertamina juga kerap kali membeli BBM dengan harga dibawah MOPS+1,95%. Tergantung bagaimana kondisi pasar di saat itu.
Namun untuk sampai ke pelanggan harus menghitung biaya distribusi dan infrastruktur.
Buka-Bukaan
Untuk itu, Pertamina akan mengajak PLN untuk duduk bersama dan membuka seluruh perhitungan penawarannya selama ini. Termasuk menegosiasikan kembali marjin MOPS+6% seperti yang diminta di APBN.
"Kita akan coba ngomong deh sama PLN. Kita buka-bukaan, ini lho biaya kita. Termasuk marjin 6% seperti yang ditetapkan di APBN. Kita hitung, dan kita lihat dampaknya bagaimana. Kalau ternyata kita rugi (dengan marjin 6%), ya kita lapor pemegang saham," katanya. (lih/ir)











































