Β
Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Ahmad Widjaya saat dihubungi detikFinance, Kamis (28/2/2008).
Β
"Sejak akhir tahun hingga awal tahun ini produsen mengalami kelebihan permintaan dari sebelumnya 18-20 juta meter persegi per bulan menjadi 25 juta persegi per bulan," katanya.
Β
Ahmad mengatakan hal ini menjadi tanda positif bagi industri keramik dalam negeri untuk menambah kapasitas produksi dan memaksimalkan utilisasi produksinya.
Β
"Awal tahun ini juga ekspor mulai membaik, karena adanya permintaan yang bagus di wilayah Eropa Timur," ujarnya.
Β
Bahkan pada tahun ini ia memperkirakan geliat sektor properti akan menanjak hingga 30%, sehingga dapat menopang permintaan keramik yang terus tumbuh.
Β
"Pada tahun ini akan kita tingkatkan utilisasi dari 70% hingga 80% untuk memenuhi permintaan yang tinggi," katanya.
Β
Namun ia tetap menggarisbawahi geliat industri keramik yang mulai bagus ini harus tetap didukung oleh sektor energi yang cukup seperti pasokan gas dan suplai listrik.
Β
"Hingga 2 bulan berjalan di tahun 2008 ini masalah gas belum ada masalah, namun memang listrik masih menjadi hal yang perlu dikuatirkan," ucapnya.
Β
Ia mencontohkan beberapa wilayah kawasan industri keramik seperti Banten masih bermasalah dengan listrik.
"Di Banten ada 12 pabrik, walaupun listrik hanya menopang 10% dari kebutuhan proses produksi keramik, dampaknya penting," katanya.
Β
Ia juga masih heran dengan sikap perbankan nasional yang masih melihat industri keramik dalam katagori industri sunset. "Padahal untuk ekspansi kita butuh modal, salah satunya dari perbankan," paparnya.
Β (hen/qom)











































