"Ada formulanya terseniri, dalam hal ini floor price (harga batas bawah) ditiadakan. Tapi keuntungannya untuk upstream (produsen gas) semakin tinggi harga minyak semakin tinggi harga gasnya," kata Dirut Pertamina EP Tri Siwindono
Ia menyatakan disela-sela jumpa pers Pertamina EP di kantornya, Gedung Kwarnas, Jakarta, Jumat (29/2/2008).
Pertamina memiliki saham sebesar 29% di DCLNG yang mengelola kilang. Sisanya didominasi Mitsubishi (51%) dan Medco (20%).
Kilang ini akan mengambil gas daru dua lapangan, yaitu Matindok yang dikelola 100% Pertamina dan Senoro yang dikelola Pertamina 50% dan Medco 50%.
Selama ini, formula harga batas bawah gas yang disepakati adalah US$ 3,85 per mmbtu dengan patokan harga minyak US$ 35 per barel. Usulan tanpa harga batas bawah itu sudah disampaikan ke BP Migas, dan kini tinggal menunggu hasilnya.
"Masih belum tahu apakah BP Migas menerima atau tidak. Kalau diterima kita langsung jalan," katanya.
Hasil dari kilang ini akan dibawa ke Jepang untuk dua pembelinya, yaitu Kansai Corp dan Toho Corp. (lih/qom)











































