Menurut laporan yang dipublikasikan FAO Februari lalu, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami krisis pangan. Krisis pangan yang dialami Indonesia selain karena kenaikan harga pangan diperparah dengan adanya banjir, gempa dan longsor.
Indonesia berdasarkan laporan Global Information and Early Warning System FAO ini termasuk negara-negara yang membutuhkan bantuan negara luar dalam mengatasi krisis tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara di kawasan Afrika sebagian besar terkena krisis pangan akibat mengalami perang saudara, masalah pengungsi dan kekeringan.
Di kawasan Asia ada 9 negara yang mengalami krisis pangan yakni Irak, Afghanistan, Korea Utara, Bangladesh, Indonesia, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, dan Timor-Leste. Penyebab krisis pangan di negara Asia sebagian besar banjir dan gempa, kemudian konflik yang terjadi di Pakistan dan Afghanistan.
Di Amerika Latin ada 4 negara yakni Bolivia, Haiti, Nikaragua dan Republik Dominika yang mengalami banjir. Di Eropa ada 2 negara yang mengalami krisis pangan yakni Republik Moldova dan Federasi Rusia. Di Moldova terjadi krisis pangan karena kekeringan dan Federasi Rusia mengalami krisis karena adanya konflik. Menanggapi laporan ini Presiden Bank Dunia Robert Zoellick meminta seluruh dunia untuk menyiapkan langkah mengatasi kelaparan dan malnutrisi akibat kenaikan harga pangan.
"Kelaparan dan malnutrisi adalah aspek yang terlupakan dari Millennium Development Goals. Kelaparan dan malnutrisi mendapat sedikit perhatian, kenaikan harga pangan tidak hanya mengancam manusia tapi akan mengancam kestabilan politik. Hal ini harus mendapat perhatian yang lebih serius," ujarnya seperti dikutip situs Bank Dunia, Minggu (2/3/2008).
Harga pangan selama ini meningkat karena berbagai hal, yang paling utama adalah karena kenaikan harga energi dan harga pupuk, kenaikan permintaan komoditas pangan karena subtitusi energi biofuel serta kekeringan di Australia dan negara lain.
Cadangan biji-bijian dunia saat ini tercatat paling buruk. Hal ini mengakibatkan harga seperti harga gandum meningkat hampir 200 persen. Secara keseluruhan harga-harga komoditas pangan sudah naik 75 persen.
"Kenaikan harga biji-bijian tidak disebabkan oleh gangguan persediaan yang singkat, dan ini membutuhkan waktu yang lama untuk kembali menyediakan cadangan bahan pangan dan menurunkan harga," ujar Don Mitchell, Lead Economist Bank Dunia.
(ddn/ddn)










































