Hal tersebut disampaikan anggota Komisi VII, Tjatur Sapto Edy dari FPANΒ disela-sela raker dengan Menteri ESDM di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/3/2008).
Β
"Pemerintah sudah kena sindrom tidak percaya diri berhadapan dengan kontraktor asing (Newmont). Apakah pemerintah sudah tidak menganggap bahwa kekayaan alam di bumi Nusa Tenggara itu bukan milikΒ ibu pertiwi lagi sehingga harus mengadu ke arbitrase?" katanya.
Padahal, menurut Tjatur, arbitrase internasional sarat dengan kepentingan politis yang dalam track record-nya selalu membela kontraktor asing. Hal ini bisa diambil contoh kasus menangnya ExxonMobil melawan VenezuelaΒ karena nasionalisasi yang dilakukan negara itu.
"Atau barangkali ini langkah escape dari pemerintah untuk "mengalah" diΒ forum internasional karena kalau mengalah di dalam negeri rakyat akan marah. Saya berharap Pemerintah mampu bersikapΒ tegas mencabut izin operasi PT. NNT yang nyata-nyata ingkar terhadap KK pasal 24 (12)," katanya. (lih/qom)










































