Hal tersebut disampaikan Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi disela lokakarya 'Jamu Brand Indonesia' di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (4/3/2008).
"Kedelai tradisi di Indonesia adalah tanaman kedua setelah padi. Jadi kedelai akan panen cukup banyak mungkin sekitar Juni, dan dari sana kita akan punya harga yang lebih baik," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bayu, harga kedelai di dalam negeri masih lebih rendah daripada harga kedelai di pasar internasional. Untuk harga kedelai di tingkat internasional memang masih tinggi yaitu sekitar US$ 381 per ton untuk soybean meal.
Di AS dan Eropa, musim sudah berganti dan memasuki musim panas, sehingga permintaan untuk minyak mentah biasanya berkurang. Karena permintaan berkurang, maka harga minyak akan turun, dan biasanya begitu ada penurunan harga minyak, harga komoditas lain ikut turun.
"Mudah-mudahan itu akan mensatbilkan harga internasional. Argentina juga akan mulai panen April-Mei, dan dari sana mudah-mudahan harga internasional mulai stabil," ujarnya.
Untuk mengatasi gejolak akibat kenaikan harga kedelai, pemerintah akan melakukan 2 strategi yakni mengurangi volatilitas harga itu sendiri dan membantu masyarakat yang terkena dampak, dengan memberikan subsidi kedelai.
(ddn/qom)











































