Lonjakan harga itu dipicu oleh lemahnya suplai ditengah meningkatnya permintaan, plus melemahnya dolar AS dan melemahnya perekonomian AS.
Para investor pun kini memilih untuk melepas cadangan dolar dan sahamnya untuk mencari tempat investasi yang paling aman dari resesi di AS.
Namun tetap saja, investor diingatkan untuk waspara. Andrey Kruchenkov, analis dari Sucden mengingatkan adanya potensi koreksi yang tajam di pasar komiditas.
"Kecemasan terhadap perekonomian yang terus menerus dan risiko pembalikan yang semakin besar dapat memicu koreksi dari kenaikan harga minyak mentah dan komoditas secara umum," ujarnya seperti dikutip dari AFP, Sabtu (8/3/2008).
Untuk harga minyak selama pekan ini meroket hingga US$ 106 per barel pada Jumat kemarin. Kontrak utama New York untuk minyak jenis light ditutup meroket ke 106,54 per barel, sementara minyak jenis Brent juga meroket ke rekor terbarunya di US$ 103,98 per barel.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah dolar terpuruk ke level terendahnya atas euro menyusul keluarnya angka PHK Februari yang tertinggi dalam 5 tahun.
Untuk harga emas dan perak juga melonjak. Harga emas mencapai puncaknya di US$ 992,50 per ounce pada Kamis lalu, menyusul turunnya produksi dari Afrika Selatan. Sedangkan perak melonjak ke level tertingginya dalam 27 tahun mencapai US$ 21,22 per ounce.
Platinum juga sempat mencetak rekor tertingginya di US$ 2.301,50 per ounce, sebelum akhirnya kena profit taking.
Harga komoditas perkebunan pun mengikuti komoditas pertambangan. Harga komoditas perkebunan yang mencatat rekor tertingginya adalah biji-bijian, kedelai, coklat, kopi dan karet.
(qom/qom)











































