Hal tersebut diungkapkan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro usai peluncuran sebuah majalah energi di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (11/3/2008).
"Saya sedang siapkan komunikasi dengan beberapa negara untuk dorong stabilitas. Jangan sampai second round terjadi," katanya.
Purnomo menjelaskan, second round effect merupakan kondisi kenaikan harga barang-barang dan jasa yang biasanya terjadi seiring lonjakan harga minyak. Hal ini pernah terjadi pada tahun 1975-1976.
Untuk itu, negosiasi dilakukan agar negara-negara industri yang biasa mengekspor produknya ke Indonesia mau menekan dampak lonjakan harga minyak.
"Second round itu kenaikan harga barang jasa. Karena harga minyak naik, capital good yang diimpor naik juga, itu kan yang buat negara-negara industri. Karena minyak naik, barang yang masuk ke Indonesia akhirnya naik juga," katanya.
Namun Purnomo tidak menjelaskan dengan rinci bagaimana negosiasi yang dimaksud, ataupun negara mana yang akan dinego.
Yang pasti, selain menego negara-negara industri, secara internal Indonesia juga harus menjaga tingkat inflasinya di level satu digit.
Asumsi Harga Minyak
Terkait asumsi harga minyak dalam APBN 2008, Purnomo mengaku pemerintah hingga kini belu memutuskannya.
"Masih dibahas, saya belum bisa sampaikan," katanya ketika ditanya apakah asumsi harga minyak US$ 83 per barel masih relevan dengan harga minyak sekarang.
Ia menegaskan, kenaikan harga minyak memang akan mempengaruhi subsidi yang ditanggung pemerintah. Tapi juga akan menambah pendapatan negara.
Pada hari ini, harga minyak mentah sempat menembus US$ 107 per barel. Dengan harga itu, menurut Purnomo, Indonesia Crude Price masih di kisaran US$ 90 per barel.
(lih/qom)











































