"Harus diwaspadai, seberapa besar kita bisa bertahan untuk menghadapi kenaikan harga minyak ini," kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro usai peluncuran sebuah majalah energi di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (11/3/2008).
Pada perdagangan di pasar komoditas Singapura hari ini, kontrak utama New York untuk minyak jenis light pengiriman April mengalami koreksi tipis 19 sen ke level US$ 107,71 per barel. Di New York sebelumnya, harga sempat mencapai puncak hingga US$ 108,21 per barel, sebelum akhirnya ditutup pada US$ 107,90 per barel.
Sementara minyak jenis Brent di pasar Singapura juga terkoreksi 11 sen ke level US$ 104,05 per barel. Kemarin, harga minyak jenis Brent North Sea di London untuk pengiriman April menyentuh level 104,42 per barel. Rekor harga minyak sebelumnya di London di posisi 102,61 per barel pada Kamis pekan lalu (6/3/2008).
Â
Purnomo menjelaskan, kenaikan harga minyak dipastikan akan berdampak ke ongkos produksi barang dan jasa. Akibatnya, harga barang dan jasa ditingkatan konsumen pun akan naik. Kenaikan harga barang dan jasa pun akan berdampak ke inflasi, bahkan hingga ke tingkat kemiskinan.
Â
"Efek kenaikan harga bisa berdampak ke inflasi, bisa menggerogoti angka kemiskinan," katanya.
Â
Selain itu, kenaikan harga minyak juga akan makin membebani subsidi negara. Purnomo menegaskan, subsidi BBM saat ini dipastikan melebihi Rp 100 triliun, dan subsidi listrik mencapai sekitar Rp 50 triliun.
Â
"Subsidi kita untuk minyak saja sudah diatas Rp 100 triliun, belum untuk listrik yang Rp 50 triliun," katanya. (lih/qom)











































