Seperti dikutip dari The Star, kontrak berjangka CPO di Bursa Derivatif Malaysia pada Selasa (11/3/2008) kembali naik 194 Ringgit (RM) menjadi RM 3.859 per ton.
Pada perdagangan kemarin, kontrak berjangka CPO sempat anjlok hingga 5,7% menjadi RM 3.500 per ton, sebelum akhirnya ditutup pada harga RM 3.665 per ton, yang berarti turun RM 45. Harga CPO mencapai puncaknya pada 3 Maret pada harga RM 4.486 per ton.
Para pialang kembali masuk ke pasar setelah melihat besarnya jumlah ekspor CPO dari sejumlah pelabuhan lokal selama 10 hari di bulan Maret.
Seperti disampaikan oleh surveyor kargo independen, Societe Generale de Surveillance, pengapalan CPO ke luar negeri naik hingga 45,5% menjadi 527.408 ton untuk periode 1-10 Maret.
Survei lainnya dari Intertex Testing Services memperkirakan ekspor CPO naik hingga 54% menjadi 516.499 ton selama periode tersebut. Tingginya ekspor itu dipicu oleh kekhawatiran menumpuknya cadangan CPO dalam negeri Malaysia.
Malaysian Palm Oil Board sebelumnya menyatakan bahwa cadangan CPO Malaysia telah meningkat 3% menjadi 1,93 juta ton. Sementara produksi turun hingga 13,2% menjadi 1,42 juta ton selama Februari.
Harga CPO sebelumnya sempat anjlok yang dipicu kabar bahwa China akan memperluas area perkebunan sawitnya. China selama ini dikenal sebagai importir minyak tumbuh-tumbuhan terbesar, termasuk CPO dan minyak kedelai.
Spekulasi pun memuncak dengan spekulasi bahwa China akan melepaskan cadangan minyak sayurnya dalam rangka menghadapi kenaikan harga di dalam negeri.
Β (qom/ir)











































