Airbus Cetak Rugi US$ 1,4 M

Airbus Cetak Rugi US$ 1,4 M

- detikFinance
Selasa, 11 Mar 2008 16:12 WIB
Paris - Pabrikan pesawat asal Eropa, Airbus menderita rugi operasi lebih dari US$ 1 miliar pada tahun 2007, ditengah panen order pesawat yang mencapai rekor.

Rugi yang diderita Airbus ini membuat induk perusahaan Airbus, European Aeronautic Defence and Space Company (EADS) terkena getahnya.

Seperti dikutip AFP, Selasa (11/3/2008), Airbus mengalami rugi operasi sebanyak US$ 1,4 miliar atau sekitar 881 juta euro. Kerugian ini lebih buruk dibanding tahun 2006 yang mencapai 572 miliar euro. Dalam sejarahnya, Airbus baru menelan kerugian pada tahun 2006.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Airbus kini mengalami pembengkakan biaya akibat beberapa penundaan pengiriman pesawatnya antara lain pesawat superjumbo A380 dan pesawat militer A400M.

Meski sudah mengalami rugi 2 tahun berturut-turut, Airbus yakin akan kembali ke performa hijau pada tahun 2008. Laba operasi yang ditunjukkan dengan pendapatan sebelum bunga dan pajak diprediksikan sebesar 1,8 miliar euro tahun ini, meningkat dibanding tahun 2007 yang hanya sebesar 52 juta euro.

Penjualan diperkirakan meningkat di atas 40 miliar euro tahun ini, naik sedikit dibanding tahun 2007 sebesar 39,1 miliar euro.

Selain karena penundaan pengiriman pesawat, Airbus dan EADS juga mengalami tekanan akibat penguatan euro terhadap dolar AS di 2007. Penguatan euro mengakibatkan ekspor pesawat mereka kurang kompetitif karena harganya lebih mahal di pasar internasional. Akibatnya margin Airbus tergerus.

Pada tahun 2007, Airbus mendapat pesanan pesawat sebanyak 1.341 buah, lebih tinggi dari tahun 2005 sebanyak 1.055 pesawat. Namun angka ini lebih sedikit dari rivalnya dari AS Boeing.

Akhir bulan lalu, Pentagon AS menandatangani kontrak pengadaan pesawat tanker bahan bakar senilai US$ 35 miliar dengan EADS dan Northrop Grumman mengalahkan rivalnya Boeing.

Penunjukkan EADS dan Northrop ini menimbulkan protes dari kalangan AS, termasuk dari Kongres AS.

Kontrak itu membuat kecewa Boeing yang sekarang masih merupakan penyedia pesawat pengisi bahan bakar untuk militer AS.
(ddn/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads