Kenaikan harga minyak dipicu oleh kekhwatiran mengenai cadangan minyak, aksi spekulasi dan pelemahan dolar AS. Dolar AS yang melemah membuat harga minyak menjadi lebih murah sehingga minyak diserbu pembeli dengan mata uang selain dolar.
Setelah menembus US$ 110,2 per barel, harga minyak light sweet untuk pengiriman bulan April ditutup pada harga US$ 109,92 per barel. Di London, minyak jenis Brent North Sea untuk pengiriman bulan April ditutup pada harga US$ 106,27 per barel.
"Anda mau menyebut ini aksi beli spekulatif atau perlindungan (hedging) terhadap pelemahan dolar, kenaikan harga ini jelas tidak ada hubungannya dengan fundamental pasar," tulis analis Standard Bank seperti dikutip AFP, Kamis (13/3/2008).
Kenaikan harga minyak ini diyakini para ahli ekonomi akan meningkatkan tekanan inflasi terutama di negara AS yang sedang mendapat tantangan dalam ekonominya.
Badan Energi Internasional (IEA) akan mengumpulkan pakar di bidang industri perminyakan untuk mengkoordinasikan langkah-langkah menyusul terus naiknya harga minyak.
"Akan ada pertemuan hari Senin di Paris, baik itu dari sektor keuangan dan perdagangan minyak, dan dihadiri juga oleh perwakilan dari industri perminyakan," ujar juru bicara IEA.
OPEC juga sudah menaikkan harga referensi minyaknya menjadi US$ 100,57 per barel, setelah sebelumnya dilepas pada US$ 99,48 per barel. Inilah pertama kalinya harga referensi OPEC bercokol di angka US$ 100 per barel.
(ddn/ddn)











































