Hal ini diutarakan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Plastik dan Olefin (Inaplas) Budi Soesanto Sadiman kepada detikFinance, Kamis (13/2/2008).
"Dua minggu lalu harga PE hanya mencapai US$ 1.800 per ton, awal minggu ini mulai naik diangka US$ 1.900 per ton, lalu PP sudah mulai menuju angka US$ 1800 per ton dari sebelumnya yang hanya US$ 1.700 per ton," ungkap Budi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun menurutnya permintaan yang turun tersebut justru turut membantu menekan lonjakan harga dari bahan baku plastik. "Permintaan turun, setidaknya mampu menekan kenaikan," jelasnya.
Seperti diketahui bulan lalu produksi plastik mengalami penurunan hingga 5%, dan bulan Maret ini Budi memperkirakan akan ada penurunan hingga 1% dari produksi rata-rata 20.000 ton per bulan.
"Karena bulan lalu permintaan turun, jadi sekarang ini masih banyak stok kalau dijual dengan harga sekarang masih dapat untung," jelas Budi.
Jumlah 20.000 ton tersebut mencakup 80% produk PP dan PE, sedangkan 20% sisanya adalah untuk produk PVC dan PS.
"Maret ini memang khusus untuk produk hilir seperti plastik kemasan akan turun karena permintaan melemah karena adanya penurunan pembelian dari setiap rumah tangga untuk barang kebutuhan yang pakai plastik," ungkapnya.
Tahun ini produsen plastik memperkirakan akan ada pertumbuhan 6% yaitu mencapai 2,4 juta ton. Dengan semakin menggilanya harga minyak mentah dunia, tentunya produk plastik akan yang paling terkena dampak lonjakan harga minyak. (hen/ir)











































