"Kita kembalikan apa core business Citilink. Very simple. Air transport yang dibutuhkan konsumen ada 2 value proposition. Pertama predictibility.Β Kedua safety," ujar Direktur Strategi dan Teknologi Informasi PT Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (13/3/2008).
Predictibility atau ketepatan waktu, menurutnya, menjadi hal yang kerap dikorbankan maskapai LCC. "On time performance. Kalau janji terbang jam 10 ya jam 10. Kita tidak mengorbankan safety untuk mencapai cost yang lebih murah. Untuk harga, akan kompetitif dengan LCC operator yang lain," ujar Elisa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan memilih menyewa bukan membeli, menurut Elisa, karena komponen biaya memiliki pesawat itu berada pada urutan nomor 3 setelah bahan bakar dan perawatan.
"Biaya untuk fuel sangat tinggi. Biaya untuk memiliki pesawat tidak terlalu signifikan daripada biaya fuel. Kalau biaya fuel bisa turun rastis mungkin kita bisa memutuskan untuk membeli," jelas Elisa.
Namun Elisa masih enggan menyebutkan jenis pesawatnya. Yang jelas, lanjutnya, Citilink masih akan tetap memakai pesawat jet, bukan propeller (baling-baling). "Tiga sampai lima tahun, jumlah pesawat akan menjadi 25, tergantung dinamika pasar," ujarnya.
Namun Elisa enggan menyebutkan rute-rute mana saja yang akan diterbangi LCC. Yang jelas Citilink fokus pada rute domestik, bukan luar negeri. "Ada rute yang dipertahankan, rute yang gemuk," katanya.
Sebelumnya Citilink mempunyai 6 rute yang menerbangi kota-kota seperti Surabaya, Jakarta, Batam dan Bandung. Citilink pun optimis akan mampu menjadi pemimpin pasar dengan strateginya ini.
"Optimistis. Dalam bisnis manapun, tidak ada orang yang mau jadi nomor sekian. Citilink juga ingin seperti itu, jadi leader di kelasnya," tegas Elisa. (nwk/aba)










































