Menkeu: Situasi Ekonomi AS Sangat-sangat Serius

Menkeu: Situasi Ekonomi AS Sangat-sangat Serius

- detikFinance
Senin, 17 Mar 2008 13:22 WIB
Jakarta - Krisis finansial di Amerika Serikat (AS) tak bisa diremehkan. Menkeu Sri Mulyani menyebut situasi AS saat ini sudah sangat-sangat serius. Indonesia pun akan kena getahnya.

"Pada hari ini IHSG jatuh karena pada hari minggu kemarin, yang padahal hari libur, The Fed menurunkan suku bunganya. Ini menandakan bahwa situasi di AS sudah sangat sangat serius," jelas Menkeu di depan anggota DPD di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Senin (17/3/2008).

Menurut Menkeu, belum ada yang punya angka pasti berapa kerugian yang dialami oleh AS akibat krisis subprime mortgage. Angkanya terus bergerak, dimana diperkirakan semula kerugian mencapai Rp 1.000 triliun.

"Hari ini prediksi paling buruk bahkan yang paling paling pesimis itu bisa mencapai Rp 3.000 triliun. Sementara GDP AS sendiri kan Rp 12 ribu triliun. Berarti sudah hampir 30% GDP kerugiannya hilang karena subprime mortgage," paparnya.

"Dan jelas hal ini menimbulkan risiko ke regional dan juga ke Indonesia," imbuh Menkeu.

Pemerintah sebelumnya telah menurunkan asumsi pertumbuhan ekonomi menjadi 6,4% di APBNP 2008. Namun seiring dengan perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini, menurut Menkeu angka tersebut bisa saja berubah lagi.

"Growth 6,4% itu dengan risiko ke bawah lebih besar," tegasnya.

Sementara ancaman inflasi juga terus mengintai dengan kemungkinan kenaikan harga barang-barang yang tidak terproteksi akan berlanjut.

"Saat ini saya berbicara seperti ini sedang terjadi situasi yang tidak pasti. Karena itu pemerintah berusaha menyusun APBNP yang baik. Supaya untuk menanggapi hal yang terjadi di global belakangan ini," pungkasnya.

Bank Sentral AS (Federal Reserve/the Fed) pada minggu kemarin mengambil langkah darurat dengan memotong tingkat diskonto 25 basis poin menjadi 3,25%. The Fed juga menawarkan likuiditas langsung untuk sistem brokerage.

Keputusan itu diambil ditengah keterpurukan pasar finansial yang dipicu oleh ambruknya raksasa finansial AS, Bear Stearns. Runtuhnya Bear Stearns itu kembali membuat shock pasar finansial. Dan hari ini, mayoritas bursa Asia kembali berjatuhan, termasuk IHSG dan nilai tukar rupiah.

(qom/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads