Hal ini dilakukan demi menekan dana subsidi BBM yang terus membengkak karena lonjakan harga minyak. Padahal, alpha yang diajukan di RAPBNP 2008 sebelumnya mencapai 12,5%.
Alpha sebesar 9% merupakan angka yang diajukan Komisi VII setelah proses lobi. Pertamina sempat menyatakan hanya sanggup setidaknya pada angka alpha 9,85%.
Sebelumnya malah Pertamina sempat mengajukan angka alpha berupa fix cost sebesar US$ 9 per barel. Angka ini masih setara dengan presentase 9,85% di harga minyak ICP US$ 85 per barel. Namun setelah didesak, Pertamina akhirnya menerima besaran presentase 9% itu.
"Oke, kita terima," kata Wadirut Pertamina Iin Arifin Takhyan dalam Raker Menteri ESDM dengan Komisi VII, Rabu dini hari (19/3/3008).
Menurut Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan, besaran alpha 9-9,5% masih menjadi marjin yang sangat pas buat Pertamina. Tapi dengan kondisi tersebut, Pertamina hanya bisa mendapatkan laba dibisnis PSO melalui efisiensi operasionalnya.
"Kalau alpha 9-9,5% terhadap MOPS, laba PSO hanya dari efisiensi," katanya.
Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro sempat menegaskan, besaran alpha untuk distribusi PSO jangan sampai membuat Pertamina justru tidak bisa menyalurkan BBM.
"Kalau malah terjadi kelangkaan, siapa yang tanggung jawab?" katanya.
Namun Wakil Ketua Panitia Anggaran Suharso Monoarfa langsung menangkisnya.
"Jangan hanya alpha yang diminta Komisi VII berbeda tipis dengan yang diinginkan Pertamina lalu diancam-ancam dengan kelangkaan," katanya. (lih/qom)











































