Demikian disampaikan oleh Direktur Center For Petroleum Kurtubi dalam diskusi di sebuah rumah makan di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (22/3/2008).
"Kita tahu kenaikkan harga minyak dunia saat ini mempengaruhi seluruh kehidupan ekonomi rakyat, pemerintah gagal dalam mengelola energi. Padahal kalau pemerintah bisa mengelola dengan baik, maka akan ada penambahan produksi minyak sebesar 1,5 juta barel yang akan memberikan penerimaan Rp 200 triliun," tuturnya.
Dikatakan Kurtubi untuk memperbaiki pengelolaan manajemen energi ini harus ada perubahan UU Migas. Dalam UU Migas yang sekarang, proses investasinya berlarut-larut sehingga investor enggan memasukinya.
"Selain itu juga dalam undang-undang ini dikatakan investor harus membayar pajak meskipun mereka masih eksplorasi," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi VII DPR RI dari FPDI Ismayatun mengatakan harus ada upaya dari pemerintah untuk menaikkan lifting minyak.
"Kalau lifting diperbesar maka dengan kondisi kenaikkan harga saat ini kita harusnya mendapatkan pemasukkan yang lebih besar," katanya.
Ismayatun mengatakan mengenai subsidi bahan bakar, pemerintah jangan menekan masyarakat kecil di saat kenaikkan harga saat ini.
"Pemerintah harus bisa atasi kebocoran penggunaan bahan bakar subsidi oleh industri-industri, ini yang harus ditegakkan," katanya.
Kurtubi mengatakan kenaikkan harga minyak dunia menyebabkan rakyat makin menderita karena ongkos produksi yang meningkat menyebabkan harga-harga menjadi naik. "Saat ini nyaris semua harga menjadi naik," imbuhnya.
(dnl/qom)











































