Hal itu diungkapkan Menakertrans Erman Suparno saat membuka Festival Mi dan Bakso Indonesia serta melantik pengurus Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) danย Koperasi Guyub Migunani Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso (Papmiso) DIY di Jogja Expo Center (JEC) Jl Janti Yogyakarta, Sabtu (22/3/2008).
"Dari sektor ketenagakerjaan pengusaha/pedagang mi bakso lebih kurang 10 juta orang. Bila sektor ini dibina secara serius akan menjadikan ekonomi kerakyatan lebih kuat dan produktif sehingga bisa mengurangi angka pengangguran," kata dia.
Menurut Erman, dari jumlah 10 juta orang itu, bila 60 persen atau 6 juta orang pengusaha mi dan bakso itu eksis, akan mampu memberikan sumbangan besar bagi penyerapan tenaga kerja.
Sedang dari sisi ekonomi diperkirakan perputaran uang di sektor ini pada tahun 2007 mencapai lebih kurang Rp 180 miliar/hari. Atau Rp 5,4 trilun/bulan dengan asumsi 6 juta pengusaha mi dan bakso dapat menjual 10 porsi/hari dengan harga Rp 3.000/porsi.
Dia mengatakan orang berdagang mie dan bakso akan berefek atau menggerakan ekonomi lain misal perdagangan bahan baku seperti tepung terigu, sayuran, tepung tapioka, beras dna rempah-rempah. Belum lagi daging sapi, saos, kecap. cuka, air minum, teh, tisue, plastik pembungkus dan sumpit mie.
"Semua sektor perekonomian akan bergerak dan punya efek positif," katanya.
Erman mengharapkan para pedagang juga go internasional. Sebab di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura hingga Arab Saudi ada sekitar 4 ribu TKI. Semua TKI pasti juga suka dan doyan makan mi dan bakso.
"Saya yakin mi bakso bisa go internasional apalagi sekarang inovasi pembuatan mie dan bakso sudah berkembang misalnya dibuat bulat, gepeng, panjang dengan isi bermacam-macam," pungkas Erman.
(bgs/qom)










































