Harga Migor Mulai Melandai

Harga Migor Mulai Melandai

- detikFinance
Minggu, 23 Mar 2008 18:01 WIB
Jakarta - Dalam dua minggu terakhir, harga minyak goreng (migor) yang sempat terbang tinggi mulai turun melandai. Penurunan ini diperkirakan karena daya beli konsumen sudah mencapai puncaknya.

Ketua Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) Adi Wisoko menjelaskan, harga minyak goreng turun sekitar Rp 1.500-2.000 per kg. Jika dua minggu lalu harga migor di pabrik sempat menyentuh Rp 12.500 per kg, kini harganya sekitar Rp 10.500-11.000 per kg.

"Dua minggu ini memang turun Rp 1.500-2.000," kata dia ketika dihubungi detikFinance, Minggu (23/3/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara menurut Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Derom Bangun, harga migor di pasaran sudah turun menjadi Rp 11.000-12.000 per kg untuk yang non-subsidi. "Kalau yang subsidi sekitar Rp 8.000-9.000 per kg," kata Derom.

Sebelumnya minyak goreng curah sempat menyentuh level Rp 14.000-16.000 per kg di berbagai daerah.

Bagi dia, penurunan harga ini terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Kenaikan harga minyak goreng dunia nampaknya sudah terlalu tinggi sehingga melampaui batas kemampuan beli konsumen.

"Harga mulai turun karena konsumen di negara lain juga merasa kalau harga sudah tinggi," kata Derom.

Kenaikan harga migor pada awalnya kurang dirasakan konsumen di negara lain karena ada penguatan mata uang mereka. Namun setelah naik lebih dari 30 persen, barulah mulai terasa dampaknya dan konsumen mulai membatasi penggunaannya.

"Kecuali untuk Indonesia, ya. Karena nilai tukar kita justru melemah," tegasnya.

Selain itu, turunnya harga migor dunia juga dipengaruhi hasil panen kedelai di Eropa dan Brasil dan AS. Sehingga produksi kedelai untuk pasokan minyak goreng pun cukup.

"Karena produksi dan supply naik, harga jadi terkoreksi," tuturnya.

Namun baik Adi maupun Derom, keduanya angkat tangan ketika ditanya mengenai prediksi harga minyak goreng pada April nanti.

"Sekarang sulit memprediksi harga minyak goreng. Sama seperti memprediksi harga minyak mentah," kata Adi. (lih/asy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads