Jumlah yang dihemat menurun karena adanya perubahan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) dari US$ 85 per barel menjadi US$ 95 per barel.
Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menjelaskannya dalam rapat kerja dengan Komisi VII di gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (24/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghematan sebesar Rp 5 triliun ini turun drastis dari rencana sebelumnya yang diajukan pada 19 Maret 2008 yang mencapai Rp 10 triliun.
Namun Purnomo menegaskan, perbedaan ini disebabkan perubahan berbagai asumsi seperti ICP yang berubah dari US$ 85 per barel jadi US$ 95 per barel.
Asumsi subsidi itu juga menggunakan nilai tukar Rp 9.100/US$ berubah dari sebelumnya Rp 9.150/US$, susut jaringan turun jadi 11,2%, alpha BBM dari 6% jadi 5%.
Selain itu, pelaksanaan program insentif dan disinsentif juga mengalami perubahan.
"Dari usulan Rp 10 triliun, kami hanya ajukan Rp 5 triliun dengan asumsi yang berbeda. Nilai tukar, alpha, dan susut jaringan. Tapi tidak Rp 10 triliun lagi," katanya.
Penghematan sebesar Rp 5 triliun itu didapat dari konversi BBM dari diesel ke MFO sebesar Rp 800 miliar, konversi ke gas untuk PLTGU Muara Tawar sebesar Rp 1 triliun, aplikasi insentif disinsentif sebesar Rp 2,7 triliun, dan pengurangan losses sebesar Rp 500 milliar.
"Selain itu, secara paralel juga akan dibagikan lampu hemat energi," jelas Purnomo.
Dirut PLN Fahmi Mochtar menekankan, perhitungan subsidi ini mengasumsikan pelaksanaan insentif disinsentif untuk pelanggan R3 (6.600 VA ke atas), R2 (2.200-6.600 VA), dan sebagian R1 (di atas 1.300 VA). (lih/ir)











































