Target penghematan subsidi BBM diprediksi tidak tercapai. Dari target awal penghematan subsidi BBM dari premium dan solar sebesar Rp 6,8 triliun, maka kini
diperkirakan hanya bisa mencapai 50-75% dari Rp 6,8 triliun tadi.
Hal tersebut disampaikan Kepala BPH Migas Tubagus Haryono di sela-sela donor darah di Departemen ESDM, Jakarta, Selasa (25/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tubagus menegaskan, hal ini karena beberapa asumsi dasar yang berubah, serta waktu pelaksanaan yang tidak dimulai awal tahun.
"Ada beberapa penyesuaian, kalau angka untuk pembatasan minyak tanah keberhasilannya 100%, tapi untuk premium, 50% dalam artian dimulai tidak tepat awal tahun,"Β jelasnya.
Selain itu, awalnya program penghematan dengan tingkat keberhasilan 100% menggunakan asumsi ICP US$ 83 per barel dan kurs Rp 9.150 per dolar AS.
Sementara saat ini kedua asumsi itu juga sudah berubah menjadi US$ 95 per barel untuk ICP dan kurs Rp 9.100.
Tubagus mengakui, dengan kondisi sekarang tidak mudah. Apalagi dengan ditetapkannya kuota solar yang hanya 11 juta kiloliter.
"Ini berat bagi kita untuk pengawasan karena rawan penyalahgunaan. Karena solar kan dipakai untuk industri dan transportasi," jelasnya.
(lih/ddn)











































