Menurut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, jika Blok Natuna jadi dikembangkan, maka si pembeli harus bersedia membeli pada harga US$ 16 per mmbtu dengan kandungan CO2 sekitar 5-6%.
"Jadi kan mahal, siapa mau beli sekarang? Dulu zaman harga minyak murah sih nggak ada masalah," ujar Purnomo di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (25/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait pengembangan Blok Masela di laut Timor, Purnomo menjelaskan bahwa hingga kini rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD) belum diserahkan ke pemerintah. Namun mengingat LNG itu berada di tengah laut, maka pengembangannya ada 3 skenario.
Purnomo menjelaskan, 3 skenario itu adalah:Β
- Dikembangkan di tengah laut dengan floating terminal.
- Dibawa ke pulau terdekat, namun dengan tantangan harus melewati palung yang dalam sekali.
- Dibawa ke Darwin, Australia.
"Tapi kita nggak senang karena nanti Australia yang dapat untung. Tapi memang itu pengolahan terdekat. Jadi kita masih pikir mana yang paling baik ini," jelas Purnomo.
LNG hasil Blok Masela itu, menurut Purnomo bisa saja separuhnya untuk mensuplai pasar domestik. Yang penting harga keekonomian tercapai.
"Misalnya Anda kerja lalu dibayar separoh dari ongkos, kan You jelas nggak mau. Ini juga gitu," pungkasnya.
(qom/ddn)











































